Search

Content

Monday, December 31, 2012

Jenis Kata serta Contoh Penerapannya dalam Kalimat


gambar dari SINI

Berikut ini merupakan jenis-jenis kata dan penerapannya, yakni:



1. Kata Benda/Nomina

Kata benda ialah semua kata yang merupakan nama diri, nama benda, atau yang dibendakan.

Contoh : Kemal, Habsy, Dita, polisi, tentara, pasukan, mobil, kue.

Kata benda terbagi atas tiga macam, yakni:

a. Kata benda konkret

Yaitu kata benda yang menunjukkan sesuatu yang dapat dilihat atau diraba, baik berupa nama diri, nama jenis, nama tempat.

Contoh: harimau, jeruk, sepatu, tas.

b. Kata benda abstrak

Yaitu kata benda yang mengacu pada sesuatu yang tidak dapat dilihat atau diraba, namun dapat dirasakan.

Contoh: persatuan, keinginan, kesedihan, kebahagiaan.

c. Kata yang dibendakan

Yaitu kata benda yang terbentuk dari jenis kata yang lain.

Contoh: Kebaikan -> berasal dari ke-an + baik (kata sifat)



Contoh penerapan kata benda dalam kalimat:

Kebahagiaan dapat datang dari siapa saja.

(‘Kebahagiaan’ di sini berfungsi sebagai subjek.)



2. Kata Kerja/Verba

Kata kerja ialah kata yang menyatakan perbuatan, tindakan, gerak-gerik atau cara yang menjalankan dan berbuat.



Menurut sifatnya, kata kerja dibedakan menjadi:

a. Kata kerja aktif

Yaitu kata kerja yang mengacu pada suatu kerja aktif, menyatakan subjek yang mengerjakan suatu perbuatan. Dari bentuknya, kata kerja aktif berawalan me-, ber-, atau konfiks me-kan, me-i, memper-kan, mem-, per-i, dan berfungsi sebagai predikat.

Contoh: berdoa, menarikan, memperbaiki, mempersatukan.

b. Kata kerja pasif

Yaitu kata kerja yang mengacu pada suatu kerja pasif, menyatakan subjek yang dikenai pekerjaan. Dari segi bentuknya, kata kerja pasif berawalan di-, ter0, atau konfiks ke-an, dan berfungsi sebagai predikat.

Contoh: ditarik, terhindar, kehujanan.



Menurut bentuknya, kata kerja dibedakan menjadi:

a. Kata kerja bentuk dasar

Contoh: pergi, pulang, makan.

b. Kata kerja bentuk turunan

Contoh: berlari, diterima, menaburkan.



Contoh penerapan kata kerja dalam kalimat:

Dennisa menari balet sore ini.

(Kata kerja ‘menari’ yang berasal dari kata benda ‘tari’ merupakan predikat dalam kalimat ini.)



3. Kata Sifat/Adjektiva

Kata sifat ialah kata yang menjelaskan sifat dan keadaan suatu benda, orang, binatang, atau yang dianggap benda.

Kata sifat terdiri atas:

a. Kata sifat dasar, contohnya: manis, besar, kecil.

b. Kata sifat turunan, yakni:

- Kata sifat turunan berafiks, contoh: tercengang.

- Kata sifat bereduplikasi, contoh: berlubang-lubang.

- Kata sifat ke-an, contoh: kebiru-biruan.

- Kata sifat berafiks –i, contoh: manusiawi.

- Kata sifat yang berasal dari berbagai kelas kata, yakni deverbalisasi (contoh: menegangkan), denominalisasi (contoh: hartawan), deadverbialisasi (contoh: berkurang, bertambah), denumeralisasi (contoh: mendua), deinterjeksi (contoh: sip, wah, oh), kata sifat yang terbentuk dari kata serapan (contoh: amoral, sekunder, sosial).

-Kata sifat majemuk, yakni subordinatif (contoh: berhati mulia, berjiwa besar), koordinatif (contoh: aman tenteram, hina dina, lemah lembut).



Contoh penerapan kata sifat dalam kalimat:

Jeruk itu berasa manis.

(kata sifat‘manis’ berfungsi sebagai pelengkap dalam kalimat tersebut.)



4. Kata Hubung/Konjungsi

Kata hubung terdiri atas:

a. Kata hubung intrakalimat

Kata hubung ini berfungsi menghubungkan bagian-bagian dalam kalimat. Kata hubung ini terbagi atas dua macam:

1. Kata hubung koordinatif yang menghubungkan bagian-bagian kalimat yang setara.

(a) Koordinatif pemilihan: atau

(b) Koordinatif penggabungan: dan, lalu, lagipula, kemudian

(c) Koordinatif perlawanan: tetapi, namun

(d) Koordinatif penegasan: bahkan



2. Kata hubung subordinatif

Kata hubung ini berfungsi menghubungkan bagian-bagian kalimat yang tidak setara. (a) Subordinatif syarat: jika, jikalau, asal, bila, manakala.

(b) Subordinatif pengandaian: andaikan, seumpama, seandainya.

(c) Subordinatif waktu: ketika, sejak, sambil, sesudah, sebelum, saat.

(d) Subordinatif tujuan: agar, supaya, biar.

(e) Subordinatiff konsesif (pertentangan): meskipun, biarpun, walaupun.

(f) Subordinatif pembandingan: seperti, bagai, bagaikan, seolah-olah.

(g) Subordinatif sebab: sebab, oleh sebab itu, karena, oleh karena itu.

(h) Subordinatif akibat: sehingga, sampai, maka.

(i) Subordinatif alat: dengan, tanpa.

(j) Subordinatif cara: dengan, tanpa.

(k) Subordinatif komplementatif: bahwa.

(l) Subordinatif atribut: yang

(m) Subordinatif perbandingan: sama...dengan..., lebih...daripada....

3. Kata hubung korelatif

Kata hubung ini merupakan kata hubung berpasangan.

Contoh:

Baik...maupun....

Tidak....tetapi...

Bukan...melainkan....

Sedemikian...sehingga...

Jangankan...pun...



b. Kata hubung antarkalimat

Kata hubung ini berfungsi menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain di dalam suatu paragraf atau wacana.

Kata hubung ini selalu memulai kalimat baru, dan huruf pertamanya adalah huruf kapital.

Contoh:

Biarpun demikian/begitu

Walaupun demikian/begitu

Oleh karena itu

Akan tetapi

Kecuali itu

Selain itu



5. Kata Bilangan/Numeral

Kata bilangan atau numeral ialah kata yang menyatakan jumlah kumpulan dan urutan atau tingkatan suatu benda atau yang dibendakan.

Kata bilangan ada bermacam-macam, yakni:

a. Kata bilangan utama/pokok/numeralia kardinal (menjawab pertanyaan: berapa)

Contoh: satu, dua, tiga, empat.

b. Kata bilangan tingkat/numeralia ordinal (menjawab pertanyaan: keberapa)               

Contoh: pertama, kedua.

c. Kata bilangan kumpulan

Contoh: kedua belah pihak, kelima anak itu

d. Kata bilangan himpunan

Contoh: tiga-tiga, sepuluh-sepuluh

e. Kata bilangan pecahan

Contoh: setengah, tiga perempat, empat perdua belas

f. Kata bilangan tak tentu

Contoh: beberapa, sejumlah, sebagian, masing-masing

g. Kata bantu bilangan

Contoh: seekor ayam, sehelai daun, sebutir telur       



Contoh penerapan kata bilangan dalam kalimat :

Kami berlima ketika pergi mengaji.

(Kata bilangan ‘berlima’ berfungsi sebagai predikat dalam kalimat tersebut.)



6. Kata Seru/Interjeksi

Kata seru ialah kata yang menyatakan isi hati pembicara. Kata ini mengacu pada nada atau sikap dan sering digunakan untuk mengungkapkan rasa kagum, sedih, heran, atau jengkel.

Kata seru ada empat macam, yakni:

a. Bernada negatif, yakni kata seru yang biasanya digunakan untuk menyatakan ketidaksukaan atau perasaan negatif.

Contoh: cih, ih, idih, bah.

b. Bernada positif, yakni kata seru yang biasa digunakan untuk menyatakan kekaguman atau kesenangan.

Contoh wow, amboi, asyik, hore, alhamdulillah

c. Bernada keheranan, yakni kata seru yang biasa digunakan untuk menyatakan keheranan atau ketidakpercayaan terhadap suatu keadaan

Contoh: lho, masa

d. Bernada netral, yakni kata seru yang bersifat netral

Contoh: eh, hai



7. Kata Ganti/Pronomina

Kata ganti ialah kata yang digunakan untuk menggantikan benda atau sesuatu yang dibendakan.

Macam-macam kata ganti:

a. Kata ganti orang/pronominal

Contoh: aku, saya, kami, kita, kamu, Anda, kalian, dia, ia, mereka

b. Kata ganti milik/posesiva

(1) Bentuk utuh, contohnya: rumah saya, adik Anda, baju dia

(2) Enklitik/bentuk ringkas, contohnya: sepedaku, adikmu, uangnya

c. Kata ganti penunjuk/demonstrativa

(1) menunjukkan sesuatu yang dekat, contoh: ini, sini

(2) menunjukkan sesuatu yang agak jauh, contoh: itu, situ

(3) menunjukkan sesuatu yang jauh, contoh: sana

d. Kata ganti penghubung/relativa

Kata ganti ini dipakai untuk menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat.

Contoh: Anak Pak Baskoro baru pulang dari Serbia. Anak Pak Baskoro bernama Vince. -> Anak Pak Baskoro yang bernama Vince baru pulang dari Serbia.

e. Kata ganti penanya/interogativa

(1) menanyakan orang: siapa

(2) menanyakan benda, hal, binatang: apa

(3) menanyakan alasan/sebab: mengapa

(4) menanyakan tempat: di mana

(5) menanyakan waktu: kapan

(6) menanyakan cara: bagaimana

(7) menanyakan jumlah: berapa

f. Kata ganti tak tentu/determinativa

Contoh: sesuatu, hal-hal, masing-masing, beberapa



8. Kata Keterangan/Adverbia

Kata keterangan ialah kata yang dipakai untuk menerangkan kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan lainnya.

Macam-macam kata keterangan, yakni:

a. Keterangan waktu/temporal

Yakni menyatakan kapan suatu peristiwa terjadi.

Contoh: tadi, besok, sekarang

b. Keterangan mutu/kualitas

Yakni menyatakan situasi dari suatu peristiwa.

Contoh: sungguh-sungguh, erat-erat

c. Keterangan jumlah/frekuentatif

Yakni menyatakan jumlah tindakan atau keseringan dari suatu peristiwa

Contoh: kira-kira, sering, jarang, kadang-kadang

d. Keterangan tempat/lokatif

Yakni menyatakan tempat berlangsungnya suatu peristiwa

Contoh: di rumah, ke Bandung, dari pasar

e. Keterangan alat

Yakni menyatakan dengan apa peristiwa itu dilakukan

Contoh: dengan cangkul, dengan pensil

f. Keterangan cara/modalitas

Yakni menyatakan tanggapan subjektif pembicaraan terhadap suatu peristiwa

Contoh:

Kepastian : pasti, memang, sungguh

Kesangsian : mungkin, agaknya

Keheranan : mustahil, mana mungkin

Keinginan : semoga, mudah-mudahan

Larangan : jangan

Ajakan : mari, ayo

Pengakuan : sebenarnya

g. Keterangan aspek

Yakni menyatakan berlangsungnya peristiwa secara objektif

(1) Futuratif : peristiwa akan berlangsung. Contohnya: akan, mau, hendak

(2) Inkoatif : peristiwa mulai berlangsung. Contohnya: mulai

(3) Duratif : peristiwa sedang berlangsung. Contohnya: sedang, tengah

(4) Perfektif : peristiwa telah berlangsung. Contohnya: telah, usai, sudah

(5) Repetitif : peristiwa berulang-ulang. Contohnya: mondar-mandir, meliuk-liuk

(6) Habituatif : peristiwa menjadi kebiasaan. Contohnya: setiap pagi, biasanya

(7) Frekuentatif : peristiwa sering berlangsung. Contohnya: sering

(8) Momental : peristiwa berlangsung dalam waktu yang singkat. Contohnya: sejenak, sekejap

h. Keterangan kesertaan

Yakni menyatakan dengan siapa peristiwa itu berlangsung.

Contoh: dengan Tania, bersama dokter

i. Keterangan syarat/kondisional

Yakni menyatakan syarat yang harus dipenuhi.

Contoh: jika, apabila, kalau, jikalau

j. Keterangan perlawanan/konsesif

Yakni keterangan untuk menyangkal suatu peristiwa

Contoh: meskipun, walaupun, biarpun

k. Keterangan sebab/kausal

Menyatakan penyebab suatu peristiwa berlangsung

Contoh: karena, sebab

l. Keterangan akibat/konsekutif

Menyatakan akibat suatu peristiwa

Contoh: sehingga

m. Keterangan tujuan

Menyatakan tujuan dari proses peristiwa itu

Contoh: agar, supaya, untuk

n. Keterangan perbandingan/komparatif

Menyatakan suatu perbuatan dengan mengadakan perbandingan suatu proses.

Contoh: sebagai, seperti, bagaikan, seakan-akan

o. Keterangan perwatasan

Menyatakan penjelasan dalam hal-hal mana saja yang berlangsung dan mana yang tidak.

Contoh: kecuali, hanya, yang









9. Kata Depan/Preposisi

Kata depan adalah kata yang berfungsi merangkaikan kata atau kelompok kata yang satu dengan kata atau kelompok kata lain dalam suatu kalimat, sekaligus menentukan jenis hubungannya.



Kata depan berdasarkan bentuknya, yakni:

a. Kata depan berbentuk kata: di, ke, dari, bagi, untuk, guna, dalam, pada, oleh, dengan, tentang.

b. Kata depan berbentuk gabungan kata: berbeda dengan, bertolak dari, oleh karena, sampai dengan, sesuai dengan.



Kata depan berdasarkan fungsinya, yakni:

a. Menandai hubungan peruntukan: untuk, guna, bagi, buat

b. Menandai hubungan tempat berada: di

c. Menandai hubungan perkecualian: selain itu, selain dari, di samping itu

d. Menandai hubungan kesertaan: bersama, beserta

e. Menandai hubungan waktu: dari

f. Menandai hubungan kesertaan atau cara: dengan

g. Menandai hubungan arah menuju suatu tempat: ke, menuju, kepada, terhadap

h. Menandai hubungan pelaku: oleh

i. Menandai hubungan pemiripan: bagaikan, bagai, seperti, bak, laksana

j. Menandai hubungan perbandingan: daripada

k. Menandai hubungan penyebab: oleh karena, oleh sebab

l. Menandai hubungan batas waktu: sejak, sepanjang, menjelang, selama

m. Menandai hubungan lingkup geografis atau waktu: sekeliling, sekitar



10. Kata Sandang/ Artikula

Kata sandang adalah kata yang dipakai untuk membatasi kata benda. Kata sandang dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. Kata sandang yang mendampingi kata benda dasar

Contoh: para murid

b. Kata sandang yang mendampingi kata benda yang dibentuk dari kata dasar

Contoh: sang penyanyi

c. Kata sandang yang mendamping kata ganti

Contoh: si dia

d. Kata sandang yang mendampingi kata kerja pasif

Conroh: si terdakwa



11. Kata Ulang/Reduplikasi

Kata ulang ialah kata yang mengalami proses pengulangan. Kata ulang terbagi ke dalam empat jenis, yakni sebagai berikut:

a.  Kata ulang dasar (dwilingga), disebut juga perulangan utuh

Contoh: buku-buku, sekali-sekali

b. Kata ulang berimbuhan, yaitu bentuk perulangan yang disertai proses pengimbuhan

Contoh: lelaki, pertama-tama

c. Kata ulang berubah bunyi, yaitu bentuk perulangan yang disertai dengan peubahan bunyi

Contoh: gerak-gerik, bolak-balik, mondar-mandiri

d. Kata ulang sebagian (dwipurwa), yaitu bentuk perulangan yang terjadi hanya pada sebagian bentuk dasar.

Contoh: tetamu, tetiba

e. Kata ulang semu, yaitu kata yang bentuknya seperti kata ulang, namun ternyata bukan kata ulang

Contoh: laba-laba, kupu-kupu, kunang-kunang, ubur-ubur



Kata ulang memiliki beberapa makna, yakni:

a. banyak tidak tertentu: buku-buku, mobil-mobil

b. Banyak dan bermacam-macam: buah-buahan, sayur-sayuran

c. Menyerupai dan bermacam-macam: mobil-mobilan

d. Agak atau melemahkan sesuatu yang disebut pada kata dasarnya: kekanak-kanakan

e. Intensitas kualitatif: kuat-kuat

f. intensitas kuantitatif: bolak-balik

g. Makna kolektif: satu-satu

h. kesalingan: bercubit-cubitan.



12. Kata Majemuk/Komposisi

Kata majemuk adalah kata yang terbentuk dari dua kata yang berhubungan, dan hasil penggabungan itu menimbulkan makna baru.



Ciri-ciri kata majemuk :

- Menimbulkan makna baru (mata air <- mata + air)

- Tidak dapat dipisahkan (mata air -> ‘mata’ tidak dipisahkan dari ‘air’)

- Tidak dapat disisipi unsur lain (mata air, bukan ‘mata dan air’)

- Tidak dapat diganti salah satu unsurnya (mata air berarti sumber air. Unsur ‘mata’ tidak dapat diganti ‘hidung’ atau kata lain, karena akan menimbulkan makna baru)

- Tidak dapat ditukar letak unsur-unsurnya (mata air tidak dapat diubah menjadi ‘air mata’, karena maknanya akan berubah)



Kata majemuk berdasarkan sifatnya, yakni:

a. Kata majemuk eksosentris

Yaitu kata majemuk yang antarunsurnya tidak saling menerangkan.

Contoh: adik kakak, tua muda.

b. Kata majemuk endosentris

Yaitu kata majemuk yang salah satu unsurnya menjadi inti, sedang unsur lain menerangkannya.

Contoh: rumah sakit, sapu tangan.



Kata majemuk berdasarkan jenisnya:

a. Kata majemuk setara

(1) Bersinonim

Contoh: cantik jelita, gelap gulita, terang benderang

(2) Berantonim

Contoh: suka duka, tua muda, besar kecil

b. Kata majemuk bertingkat

(1) DM (Diterangkan-Menerangkan)

Contoh : orang tua (‘orang’ itu Diterangkan, ‘tua’ itu Menerangkan)

(2) MD (Menerangkan-Diterangkan)

Contoh : panjang tangan (‘panjang’ itu Menerangkan, ‘tangan’ itu Diterangkan)
Template images by nicolecioe. Powered by Blogger.
Dear lovely readers, I am so sorry that you can not copy and then paste what I posted in this blog. I hope you understand about it, for all the hard work I put in writing those postings. But if you really need some contents of what I've posted, you can contact me then via 'Contact Me' 's menu. Thank you for your sincere understanding. Happy reading and learning! :)